Museum Taman Prasasti…

Lama saya penasaran dengan Museum Taman Prasasti ini, alasannya adalah Novel karya Rizky Ridyasmara yang berjudul the Jacatra Secret, novel ini mengambil tema illuminati di Indonesia, saya ingin me-review-nya disini namun belum sempat. he

Salah satu lokasi yang beberapa kali disebut dalam novel ini selain Kota Tua ya Museum Taman Prasasti ini. Karena itu, pada waktu cuti kemarin saya mengajak isteri untuk jalan-jalan ke sana.

Saya tinggal di Pamulang, dari Pamulang saya berdua dengan isteri berangkat kesana menggunakan kereta menuju Stasiun Tanah Abang, dari Stasiun Tanah Abang, Google Maps menyebutkan lokasi yang kami tuju hanya berjarak kurang dari 30 menit berjalan kaki. Kamipun memutuskan untuk jalan kaki saja menuju kesana.

Sekitar pukul 10 kami sampai di lokasi. setelah membayar tiket per-orang Rp.5000,- kami pun langsung masuk ke Museum. Museum Taman Prasasti dulunya adalah pemakaman umum jadi yang ada disini ya Nisan.

Saya gak punya informasi apapun tentang tempat ini selain dari apa yang saya baca di buku novel Jacatra Secret, jadi seperti seorang polisi yang sedang melakukan olah TKP, berdasarkan petunjuk dari kisah novel tersebut kami memperhatikan satu persatu nisan-nisan tua dengan tulisan yang tidak terlalu jelas untuk menemukan nisan-nisan yang ada dalam cerita tersebut.

Nisan tanpa nama hanya bertuliskan angka HK28 salah satunya, dalam novel diceritakan bahwa makam tersebut besar kemungkinan merupakan makam seorang petinggi perkumpulan freemason, ukiran tengkorak pada nisan itupun menambah misteri tentang siapa yang terkubur didalamnya.

Lalu ada Makam keluarga yang didalam nya terdapat nama Maria Magdalena. Nama yang sering disebut-sebut dalam perkumpulan freemason dalam cerita novel Jacatra Secret. Lalu ada juga makam Rudolf Koehler, seorang Jenderal Belanda yang tewas ditembak sniper kerajaan Aceh. Di Makam Jend Koehler ini terdapat pahatan ular yang membentuk lingkaran yang katanya merupakan salah satu simbol dari kelompok freemason.

Selain tiga makam atau nisan yang punya peran dalam cerita novel Jacatra Secret diatas, sebenarnya ada banyak nisan-nisan makam dari pejabat dan tokoh terkenal VoC, beberapa Gubernur VoC pun di makamkan ditempat ini, lalu ada juga makam isteri Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, Olivia Mariamne Raffless yang meninggal karena wabah malaria yang melanda Batavia pada masa lalu. Bahkan nisan Soe Hok Gie pun ada disini.

Informasi tentang makam atau nisan tokoh-tokoh terkenal yang ada di Museum ini sebernarnya sudah di tempel pintu masuk Museum, namun kami tidak melihatnya waktu itu. Jadi setelah tujuan kami tercapai, kami sempat bingung mau ngapain  lagi.. hahaha. Beruntung ada beberapa siswa yang sepertinya sedang membuat video untuk tugas sekolah dan mereka mewawancarai petugas museum. Kami pun ikut bergabung kesana dan mendengarkan informasi-informasi yang di sampaikan.

Museum (pemakaman) ini ternyata masih dipergunakan sampai tahun 1974. Baru setahun kemudian ditutup lalu dipugar sebagai taman untuk melestarikan nilai sejarah dan seni arsitekturnya. Jadi sudah tidak ada lagi jenazah di lokasi ini, semuanya sudah dipindahkan kebeberapa pemakaman disekitaran Jakarta. Dan lokasi yang dulunya pemakaman umum berubah menjadi sebuah Taman yang menyimpan banyak kisah dan sejarah.

 

 

Iklan

Jakarta Pusat (iv)… kuliner santai, selesai..

Sebelum melangkah lebih jauh di tahun baru ini, saya harus menyelesaikan cerita yang belum selesai. Ya kisah wisata satu hari di Pusat Ibu Kota Jakarta pada bulan September 2014 yang lalu.

September 2014.

Selepas sholat jumat dan suasana masjid sudah tidak terlalu ramai, akhirnya kami putuskan untuk keluar dari masjid dan mencari makan. Sahabat ku mengajak untuk makan siang soto yang tidak terlalu jauh dari masjid, saya lupa nama daerahnya. Tapi menurut beliau, warung soto itu sudah ada sejak lama, dan rasanya enak. Ya sebagai pendatang saya nurut aja. haha

Keluar dari masjid, kami melewati jembatan penyeberangan di depan stasiun Juanda. Lalu masuk ke jalan disebelah nya. Disitu lah letak warung soto-nya. Bagaimana rasanya ? menurut saya Enak.

Selesai makan soto dan berbincang-bincang sejenak, sahabat ku kembali menawarkan untuk pindah tempat dengan alibi “Hari Jumat tu waktunya Wisata Kuliner bro”.  Segeralah kami beranjak dari bangku tempat duduk untuk melanjutkan “wisata”.

Tempat yang kami tuju setelah makan soto adalah sebuah warung es-krim yang katanya terkenal dan pernah masuk tv di acara wisata kuliner nya pak Bondan Winarno., namanya Ragusa. Sahabat ku mengatakan bahwa warung itu selalu ramai setiap dia lewat, namun belum ada kesempatan untuk singgah. Dan sekarang adalah waktunya tepat.

Begitu sampai di Ragusa, kami jalan kaki lagi dari warung soto ke Ragusa, saya langsung teringat dengan kedai Es Krim sejenis seperti Oen di Malang dan Tip-Top di Jogjakarta.  Sama-sama memakai embel-embel Italia dan mengaku membuat es krim nya sendiri. Bagaimana dengan rasanya ? seperti nya hampir mirip, hehe.

Sayangnya disini baterai hp saya sudah lemah, bagaimana tidak, sejak pagi sampai di gambir sampai siang ini hp saya dipaksa untuk on terus mencari informasi, foto dan lain sebagainya, sehingga saya tidak bisa mengabadikan kedai eskrim Ragusa dan menu yang saya pesan.

Selesai dari sini, kami mulai kebingungan, “mau kemana lagi ?”. Sebenarnya saya ingin mengajak sahabat saya mengunjungi pameran yang ada di monas, yang ketika saya datang tadi pagi masih belum buka. Namun beliau bukan seorang “pengangguran” seperti saya. Ada kewajiban yang harus diselesaikan, sehingga dia mengusulkan untuk menghabiskan waktu di kantornya saja, sehingga dia bisa bekerja dan kita tetap bisa berbincang-bincang.

Dan akhirnya kami melanjutkan perjalanan, masih dengan berjalan kaki, dari kedai es krim Ragusa ke Gambir, karena kantor nya kebetulan berada di depan stasiun kereta Gambir. Hal ini juga lah yang membuat saya menyetujui usulannya, saya pun tidak susah dan tidak terlalu jauh menuju stasiun untuk melanjutkan perjalanan.

Waktu berlalu, saya benar-benar menghabiskan waktu siang hingga sore di kantor sahabat ku itu. Selepas maghrib saya berpamitan, karena nyonya besar sudah tiba di stasiun dan saya harus segera menghampirinya sekaligus bersiap melanjutkan perjalanan ke Solo, Jawa Tengah.

Hari yang melelahkan namun menyenangkan, ternyata Ibu Kota Jakarta punya tempat wisata murah-meriah dan mudah dijangkau, bahkan dengan jalan kaki dan dengan waktu yang singkat. 🙂

 

Jakarta Pusat (iii)… Masjid Istiqlal

26 September 2014

Dari museum Gajah saya melanjutkan perjalanan menuju Masjid Istiqlal, saya bermaksud untuk sholat Jumat disana, sekaligus juga bertemu dengan seorang sahabat.

Perjalanan dari Museum Gajah ke Masjid Istiqlal memakan waktu kurang lebih 20 menit menurut peta di hp saya, saya berjalan ditemani matahari yang mulai bersinar terik, karena memang hari sudah menjelang siang, berbeda dengan ketika saya berjalan dari Monas menuju Museum Gajah yang sejuk dan dingin.

Peta di handphone saya mengarahkan menuju gerbang Istiqlal yang biasa untuk dilalui mobil, dan gerbang itu belum dibuka. Saya jadi agak sedikit bingung dibuatnya, “harus lewat mana kalau gerbang nya belum dibuka, beruntung di depan saya ada dua orang bapak-bapak yang sepertinya punya tujuan yang sama. Jadi saya ikuti saja mereka, dan sampai lah saya di Masjid Terbesar di Asia Tenggara ini.

Sekali lagi saya dibuat bingung dengan masjid ini, mungkin saking besarnya sehingga saya bingung pintu masuk dan tempat wudhu nya dimana, hahaha.

Kami bertemu didalam masjid, beberapa menit sebelum petugas menyampaikan beberapa pengumuman sebelum sholat dimulai. Sampai-sampai harus diletakan tv agar jamaah dibelakang bisa melihat khotib yang sedang ceramah.

Selesai sholat kami tidak segera keluar dari masjid, saran dari sahabat ku ini sebaiknya menunggu sejenak karena jalan keluar pasti akan sangat ramai. Jadilah kami mengobrol untuk menghabiskan waktu sembari menunggu sekaligus merencanakan hendak kemana setelah ini.

Jakarta Pusat (ii)…Museum Gajah

26 september 2014

Akhirnya saya beranjak dari tempat duduk dan bergabung dengan orang-orang yang sedang lari pagi mengelilingi tugu Monas, tapi saya tidak ikut berlari tapi cukup jalan saja, cuman saya salah mengambil rute. Jadi saya berjalan santai berlawanan arah dengan mereka yang asik lari pagi. hahaha. Agak aneh jadi rasanya.

Setelah mungkin satu putaran penuh, saya kembali melirik jam di hp, pukul delapan kurang sedikit. hmmm… mungkin sudah saatnya menepi, mencari tempat yang agak teduh mungkin sambil menunggu Monas buka untuk dikunjungi. Sudah jam delapan pas nih, tapi sepertinya belum ada tanda-tanda Monas membuka diri untuk para pelancong. Akhirnya saya coba lagi bertanya kepada mbah google dan sepertinya untuk hari jumat Monas buka jam 08.30, berarti saya harus menunggu setengah jam lagi. wah.. susah kalau begini, sayang rasanya menghabiskan waktu setengah jam hanya duduk-duduk disini.

Tampaknya rencana harus diubah, yang tadinya Monas, Istiqlal, kemudian museum gajah mungkin sebaiknya saya ke Museum Gajah terlebih dahulu, kemudian sholat jumat di Istiqlal baru kembali ke monas. Ok, fix.. sebaiknya memang ke Museum Gajah terlebih dahulu. Menurut peta di hp saya, perjalanan dari tempat saya duduk ke Museum gajah sekitar 15 menit. Berangkat..

Sebenarnya Museum Gajah dan Monas ini memang dekat, jika saja semua pintu monas dibuka maka kita cukup menyebrang dan tidak perlu memutar. Sayang kemaren saya tidak sempat mengambil screen shot jalur dari google maps nya untuk menunjukan jalan yang saya lewati.

Cukup menyenangkan berjalan menuju Museum Gajah dari Monas, mungkin karena masih pagi, sehingga cuaca tidak terlalu panas. Sesampainya disana, saya agak kaget juga melihat bangunan museum nya, rapi dan megah, tidak tampak sepertinya museum yang pernah saya kunjungi sebelumnya.
IMG_20140926_083326IMG_20140926_083117

Pagi itu suasana museum cukup ramai, tampaknya sedang ada kunjungan dari beberapa sekolah. Membayar tiket sebesar Rp.5000,- kemudian menitipkan tas dan saya pun bebas melihat-lihat koleksi yang terdapat di museum ini.

IMG_20140926_084449Bangunan utama museum ini cukup luas, dibagi menjadi beberapa bagian untuk memisahkan koleksi-koleksi nya, antara lain koleksi purbakala, keramik, numismatik, serta adat dan budaya. Selain itu ada bangunan baru 3 lantai disebelahnya, disana juga ada banyak koleksi yang menarik, sepertinya teman-teman harus melihatnya sendiri.

Cukup lama saya berada disana, dan belum semua bagian saya kunjungi namun waktu sudah menunjukan pukul 10, dan perjalanan harus segera dilanjutkan. Ya, 20 menit perjalanan menuju masjid Istiqlal untuk sholat jumat dan bertemu seorang sahabat disana..

 

Jakarta Pusat (i)… Monas

26 September 2014

Menjelang pagi, kira-kira jam 5.20 WIB, Bus Damri yang saya tumpangi dari Stasiun Tanjung Karang, Lampung sampai di stasiun Gambir Jakarta. Perjalanan akan dilanjutkan malam hari sekitar jam setengah sembilan menuju Solo dengan menumpang kereta Taksaka. Itu berarti saya punya waktu bebas seharian ini. Segera otak ini berputar menyusun rencana yang mungkin terlaksana dari pagi sampai nanti tiba waktunya melanjutkan perjalanan ke Solo.

Sepintas tadi saya melihat ada bendera dengan rapi berbaris di pintu masuk Monas ketika bus yang saya tumpangi melewatinya sebelum masuk ke stasiun Gambir. Sepertinya tidak ada salahnya jika pagi ini kita bersantai dulu melihat tugu Monas, lagi pula saya memang belum pernah ke Monas, he.

Segera setelah sholat subuh dan sarapan seadanya, saya berjalan keluar dari stasiun gambir dan masuk ke kawasan Monas lewat pintu Timur (kalau tidak salah). Ini hari jumat, dan ternyata sepagi ini kawasan Monas sudah ramai oleh masyarakat maupun instansi yang sibuk lari pagi, bahkan ada yang sepertinya memang mengkhususkan diri untuk melatih fisik para anggotanya.

IMG_20140926_074134Sepertinya akan ada acara di Monas ini, terlihat ada panggung dan kru sedang melakukan cek sound. saya mengambil tempat yang cukup teduh untuk duduk dan menonton para kru melakukan cek sound sekaligus menikmati Monas. Waktu masih menunjukan pukul 6 lewat 15. Masih banyak waktu untuk menyusun rencana selanjutnya.

Pameran Pangan Nusantara dan Produk Dalam Negeri 2014 nama acara yang akan berlangsung mulain hari ini (26 sep) sampai tiga hari kedepan. Dan menurut pembicaraan peserta yang kebetulan duduk disebelah saya, pameran akan dibuka nanti siang, setelah sholat jumat. Bisa masuk agenda itu hari ini pikir saya. Tapi menunggu sampai siang dengan hanya duduk disini sepertinya sangat akan sangat membosankan dan membuang-buang waktu.

Segera saya bertanya kepada mbah google lokasi menarik di sekitaran tugu monas ini yang masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki, Museum Nasional, Masjid Istiqlal, Gereja Katherdal, dan tentunya Monas itu sendiri menjadi pilihan yang cukup bijak untuk mengisi waktu sampai nanti sore.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya putuskan untuk mengunjungi monas, kemudian sholat jumat di istiqlal, kemudian mengunjungi museum Nasional dan ditutup dengan melihat Produk Dalam Negeri sebelum kembali ke Gambir dan menunggu kereta Taksaka Malam ke Solo.

Sip, rencana yang cukup matang. Sekarang pukul 07.30 WIB. Menurut info Monas buka pukul 08.00 WIB, ada waktu setengah jam. Mengapa tidak bergabung dengan orang-orang yang sedang lari pagi ini, mengitari tugu monas. 🙂