Selat Solo…

bilangnya mau post pas bulan puasa kemaren, ini syawal udah mau habis belum terealisasi juga.. haha
dasar manusia..

Buat bayar utang nih, he. Saya mau cerita soal makanan yang jadi salah satu favorit saya, namanya Selat Solo. Sesuai namanya makanan ini menjadi khas di Solo Raya. Tapi bagaimana ceritanya hingga makanan ini bisa menjadi makanan khas kota Solo? ini yang masih belum saya temukan jawabannya. Sama halnya kalau kita tanya kenapa namanya “Selat”, jawaban orang pada umumnya akan mengatakan Selat diambil dari Salad.

Kita tau Salad itu makanan orang bule yang isinya cuman sayur-sayur trus dikasih saos mayones. Untuk sayur dan saos mayonesnya mungkin mirip, tapi salad kan sayurnya mentah, sedangkan selat sayurnya di rebus. Tambah lagi selat ada kuah dan dagingnya. Jauh sekali dari salad kan ?.

Kayaknya bakalan panjang kalau kita ngomongin asal-usul selat ya, biar lain kali aja kita bahas lagi, he
sekarang kita daftar dimana tempat makan selat yang enak dan pernah saya cicipin..

1. Selat Vien’s
Di warung inilah saya pertama kali berkenalan dengan selat, sekitar tahun 2009-an lah. Tapi ketika pertama kali kesini saya justru pesennya gado-gado. he. soale yang ngajak ke Vien’s ini gak ngomong apa-apa soal selat solo, dan saya gak mau ambil resiko pesen makanan yang saya tidak tahu. Begitu pesenan datang, kok keliatannya enak, langsung deh saya tukar.. hahaha

2. RM Kusuma Sari
Ini baru saya coba sekitar akhir tahun lalu, gara-garanya pengen makan es-krim, dan gak tau kalau ternyata ada selat nya juga, jadinya saya pesan dua-duanya 🙂 . Setelah dari sana baru tau kalau RM Kusuma Sari ternyata terkenal, pantesan tempatnya ramai. Tempat ini cocok buat acara makan-makan keluarga. Lokasinya ada di pusat kota dan menu nya lengkap banget, gak cuman ada Es krim dan Selat, tapi ada ayam goreng dan aneka menu makanan lain yang cocok untuk satu keluarga dengan selera makan berbeda-beda.

3. Selat Solo mbak Lies
Tempat nya sedikit agak jauh dari pusat kota, tapi jangan salah, namanya sudah terkenal sampai kemana-mana, makanya saya bela-belain kesana waktu cuti beberapa bulan lalu. Menu makanan yang disajikan di tempat ini ya cuman selat, kalaupun ada variasi hanya dagingnya yang beda.. atau apa gitu, saya agak-agak lupa 🙂 . Tempatnya menarik, banyak pernak-pernik keramik, kemudian foto-foto orang terkenal yang pernah berkunjung kesana di pajang di dinding dengan bingkai warna-warni, dan pelayannya pake baju ala Belanda lho, unik kan? he

Sayangnya saya gak sempat foto-foto makanan dan tempatnya, maklum pas kemaren gak kepikiran buat di posting di blog, makan ya makan aja, he. Tapi coba aja temen-temen googling, kayaknya banyak deh review-review soal selat di tiga tempat yang saya tulis ini. Atau ada tempat lain yang direkomendasikan? jadi ntar pas pulang Solo bisa tak cobain.. he

Nah itu kalau di Solo, tempat lain gimana ?? di Tangsel ada! he. Saya dan istri sekarang memang tinggal di Tangsel, tepatnya di Pamulang. Untuk urusan kuliner daerah Tangsel saya bisa bilang cukup lengkap, namun tetep kadang ya masih ada aja yang kurang, kayak ini nih, pas lagi kepengen makan selat solo.

Tapi berkat bantuan teknologi canggih, secara tidak sengaja saya menemukan tempat makan yang menyediakan Selat Solo dalam menunya dan tempatnya tidak jauh dari Pamulang. Nama resto nya Dapur Solo, dari nama aja udah jelas la ya, gak perlu dipertanyakan lagi.. haha

Saya gak bahas yang laen, takut dikira promosi, pokoknya di Dapur Solo ada Selat, dan enak.. itu aja, harganya gimana? harganya kalau menurut saya pas, cukup terjangkau. Dari pada harus pulang ke Solo.. hayoo? he. Dan untuk kali ini saya sempatkan untuk mengambil foto selat-nya Dapur Solo. 🙂

Sebenarnya ada satu lagi tempat makan yang di menu nya menyajikan selat solo, di Vila Dago, Pamulang ada tempat makan namanya Bakmi Djowo. Tapi beberapa kali saya kesana mau pesen selat, selalu tidak tersedia. Gak tau memang sudah habis atau memang gak bikin lagi tapi lupa menghapus daftar di menu nya. he

Nah, itulah cerita saya tentang Selat Solo, sudah pernah coba? baru denger? atau makanan favorit-nya juga?

Benteng Vastenburg…

Saya agak sedikit heran ketika googling tempat-tempat wisata di Kota Solo. Dari beberapa website ataupun blog yang saya temukan dan memberikan informasi tentang wisata Solo, tidak satupun yang mencantumkan Benteng Vastenburg sebagai salah satu tempat wisata. Apakah Benteng Vastenburg kalah tenar dibandingkan dengan pasar Klewer (yang sekarang sedang dibangun kembali setelah kebakaran beberapa waktu lalu) atau mall-mall yang megah itu.
Rasa heran itu bertambah ketika beberapa orang yang saya kenal dan tinggal di Solo tidak tau persis dimana keberadaan benteng ini, bahkan isteri saya sendiri tidak tahu dimana letaknya benteng ini, jadi hanya tau nama tapi tidak tahu persis dimana lokasinya.

20160905_094629

Setiap ke Solo saya memang selalu melewatkan kesempatan untuk mengunjungi benteng Vastenberg, sampai kemarin (4 September 2016 yang lalu) saya dan istri menghadiri undangan resepsi seorang sahabat di Klaten, kami berniat menuntaskan rasa penasaran terhadap Vastenburg dan menyempatkan untuk mencari benteng ini setelah pulang dari acara resepsi.

Sepanjang perjalanan menuju lokasi saya membayangkan benteng Vastenburg ini sama seperti Benteng Vredeburg di kota tetangga Yogjakarta. Namun apa yang saya bayangkan itu ternyata sangat berbeda dengan apa yang saya lihat. he

Baca lebih lanjut

Air Terjun Tenang (Bedegung)…

Hampir setahun setelah jalan-jalan kami ke Lubuk Linggau dan Curup, akhirnya kami berkesempatan untuk menikmati lagi salah satu objek wisata  yang ada di Sumatera Selatan. Tidak mudah memang bagi seorang karyawan seperti saya dan teman-teman untuk berlibur apalagi keluar kota. Jadi ketika dilihat ada kesempatan, tanpa pikir panjang langsung disusun rencana.

Sebelum masuk bulan puasa kami memang berencana untuk jalan-jalan dan setelah mencari-cari info di internet, akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Air terjun Bedegung di Kab.Muaraenim.

Kami berempat berangkat dari lokasi kami bekerja dan tinggal di Dusun Supat, Kab. Musi Banyuasin hari Sabtu pagi tanggal 4 Juni. Setelah persiapan ala kadarnya, melihat jalur yang akan dilewati melalui google maps dan memori di otak yang mulai kabur, membeli perbekalan dan mengisi bahan bakar. Tepat pukul 09.00 pagi kami meninggalkan kota Sekayu melintasi jalan alternatif menuju Simpang Belimbing.

sky-blb

kondisi sebagian jalan yang rusak ditambah nyasar membuat waktu tempuh kami lebih lama dari yang tertulis di gmaps… hahaha

Baca lebih lanjut

Linggau – Curup… Bukit Kaba.

Melanjutkan cerita liburan singkat kemarin, he. Setelah dari Pemandian Air Panas Suban, kami beristirahat di sebuah penginapan murah yang direkomendasikan oleh penjaga loket di pemandian. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Pemandian Air Panas Suban, kurang lebih sekitar 15-20 menit lah.

Saya lupa nama penginapannya, harga per-kamar disana ada dua macam, ada yang Rp.100.000,00 dan Rp.200.000,00, perbedaanya hanya pada kasur, single bed dan double bed. Secara umum penginapannya cukup nyaman dan aman, kamar yang luas, ada tv dan kalau malam gerbang dikunci dari luar oleh penjaganya, dijamin aman. he

Satu malam saja kami disana, karena keesokan harinya kami harus segera kembali ke Sekayu, walaupun beberapa orang ingin melanjutkan perjalanan menuju Pantai Panjang Bengkulu, namun karena waktu yang tidak memungkinkan akhirnya niat itu terpaksa kami urungkan dan berharap di lain kesempatan kami bisa pergi kesana.

Ditengah perjalanan pulang, secara tidak sengaja kami melihat papan penunjuk jalan bertuliskan Objek Wisata Bukit Kaba, tanpa pikir panjang, kami belok mengikuti arah panah yang ditunjuk. Bayangan kami adalah objek wisata seperti Bukit Sulap yang ada di Linggau.
Baca lebih lanjut

Linggau – Curup…Pemandian Air Panas Suban

Sekitar pukul 4 sore, setelah menyempatkan diri mampir di Masjid Agung Linggau untuk “laporan” kepada Yang Maha Kuasa, kami berangkat menuju Curup.

Di sore yang cerah itu kami melewati jalan yang berliku-liku dalam artian sebenarnya. Ya, lepas dari kota Linggau menuju Curup kita akan memasuki jalan perbukitan yang sudah tentu penuh dengan tanjakan dan turunan serta kelok-kelok yang aduhai.

Sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan alam yang menyejukan hati. Hijau rimbun pepohonan yang diselingi ramainya pemukiman, makin lengkap ketika ditambah susunan rapi barisan perkebunan bermacam sayur dan buah. Kalau kata Dikdik, seperti di Lembang, Bandung suasananya.

Jarak tempuh dari Linggau hingga sampai ke tujuan yaitu Pemandian Air Panas Suban kira-kira memakan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan darat. Karena sekitar pukul 17.30 WIB kami sampai di lokasi. Ada sedikit kekhawatiran kalau tempat tersebut sudah akan tutup, melihat para pengunjung yang sudah bergegas pulang.

Kami pun bertanya kepada petugas tiket masuk, dan jawabnya cukup melegakan, Pemandian Air Panas Suban buka sampai pengunjung terakhir pulang. nah.. mantap kan? Dan kami pun akhirnya masuk setelah membayar tiket seharga Rp.10.000,00/orang.
Baca lebih lanjut

Linggau – Curup… Bukit Sulap.

Setelah berpuas diri menikmati Air Terjun Temam, perjalanan kami lanjutkan menuju Objek Wisata yang juga cukup populer (berdasarkan hasil googling) di Kota Lubuklinggau, yaitu Bukit Sulap.

Kami berempat tidak mempunyai gambaran apapun tentang Bukit ini, walaupun sudah sempat mencari di internet, tapi tidak ada penjelasan tentang tempat yang bernama Bukit Sulap, akses menjuju kesana, ada apa saja disana, apa yang bisa kita lakukan disana dan penjelasan lain-lain. Kebanyakan blog atau situs menyebutkan Objek Wisata Bukit Sulap, tapi tidak menerangkan lebih jauh.

Sekitar pukul tiga sore kami sampai di tujuan setelah mampir sejenak untuk mengisi perut dan tesesat sedikit karena memang tidak ada yang tahu jalan dan juga tidak ada petunjuk di sepanjang jalan yang kami lewati.
20150816_152543
Objek Wisata Bukit Sulap ini sepertinya masih baru, ada aula yang cukup luas disana dan beberapa kamar sewa (mungkin). Sepertinya tidak banyak yang bisa dilakukan disini (atau kami saja yang tidak tahu ya).
Para pengunjung yang datangpun terlihat hanya bersantai, ngobrol dan bercanda, serta berfoto-foto ria. Namun kabarnya, Bukit Sulap ini terkenal sebagai arena Mountain Bike, khususnya Downhill. Tapi kalau kita yang gak punya Sepeda Gunung trus gimana ? he

Tidak ada petugas yang bisa ditanya apakah boleh atau ada jalan untuk mendaki ke puncak bukit? yang banyak bersebaran disana hanyalah penjual minuman dingin.
20150816_151350

Dan sama seperti Air Terjun Temam yang sedang giat membangun sarana-prasarana. Di Bukit Sulap pun sedang dibangun sebuah inclinator, ya semacam kereta gantung mungkin ya. Biar pengunjung lebih gampang kalau mau ke puncak bukit, he

Tidak lama kami di Bukit Sulap, karena bingung apa yang bisa dilakukan disini. Akhirnya kami memutuskan untuk langsung menuju Curup, Pemandian Air Panas Suban.

Linggau – Curup… Air Terjun Temam.

Dua kali gagal ke Pagaralam sedikit membuat kecewa, sehingga ketika melihat ada angka merah di kalender yang bertepatan dengan peringataan kemerdekaan Indonesia, sebuah rencana segera disusun dengan cepat, secepat penulisan teks proklamasi. he

Menggaet Dikdik, Agus dan pak Darwin, rekan-rekan di tempat saya bekerja. Minggu pagi (16/8) kami langsung berangkat menuju Lubuk Linggau menggunakan mobil Agus. Lubuk Linggau merupakan salah satu kabupaten di Sumatera Selatan yang jarak tempuhnya kurang lebih 4 jam perjalanan darat dari tempat kami bekerja di Sekayu, kab MUBA (Musi Banyuasin). Tujuan kami adalah jalan-jalan dan mengunjungi objek wisata disana. Hasil pencarian di google mengarahkan kami ke Air Terjun Temam dan Bukit Sulap, dua objek wisata paling populer di kota Linggau dan lokasinya pun tidak terlalu jauh dengan pusat kota.

20150816_133156Sekitar pukul 12.00 WIB kami sampai di objek wisata Air Terjun Temam, promosi nya mengatakan objek wisata ini mirip dengan Air Terjun Niagara tapi dengan ukuran yang jauh lebih kecil. he

20150816_121839

Akses menuju Objek Wisata Air Terjun Temam cukup mudah, namun sepertinya agak sulit jika menggunakan transportasi umum, karena saya tidak melihat adanya angkutan umum yang lewat, rata-rata pengunjung menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa bus.Dengan biaya parkir sebesar Rp.5000 dan tiket masuk Rp.3000 per orang, kita sudah bisa bersantai dan menikmati mini Niagara. Sayang sekali kami datang disaat musim kemarau, sehingga debit air nya tidak terlalu besar.

20150816_122332 20150816_123422
Fasilitas di Objek Wisata Air Terjun Temam bisa dibilang cukup lengkap, mushalla dan toilet sudah tersedia. Warung-warung yang menjajakan makanan dan minuman pun ada. Bahkan sepertinya pemerintah sedang mengembangkan Objek Wisata ini dengan membangun amphiteather. dan waterpark (sedang dalam tahap pembangunan).

Setelah kami merasa cukup menikmati sejuknya suasana dan pemandangan Air Terjun Temam, kami istirahat sejenak sebelum bergegas menuju perhentian selanjutnya. Bukit Sulap.

Jakarta Pusat (iv)… kuliner santai, selesai..

Sebelum melangkah lebih jauh di tahun baru ini, saya harus menyelesaikan cerita yang belum selesai. Ya kisah wisata satu hari di Pusat Ibu Kota Jakarta pada bulan September 2014 yang lalu.

September 2014.

Selepas sholat jumat dan suasana masjid sudah tidak terlalu ramai, akhirnya kami putuskan untuk keluar dari masjid dan mencari makan. Sahabat ku mengajak untuk makan siang soto yang tidak terlalu jauh dari masjid, saya lupa nama daerahnya. Tapi menurut beliau, warung soto itu sudah ada sejak lama, dan rasanya enak. Ya sebagai pendatang saya nurut aja. haha

Keluar dari masjid, kami melewati jembatan penyeberangan di depan stasiun Juanda. Lalu masuk ke jalan disebelah nya. Disitu lah letak warung soto-nya. Bagaimana rasanya ? menurut saya Enak.

Selesai makan soto dan berbincang-bincang sejenak, sahabat ku kembali menawarkan untuk pindah tempat dengan alibi “Hari Jumat tu waktunya Wisata Kuliner bro”.  Segeralah kami beranjak dari bangku tempat duduk untuk melanjutkan “wisata”.

Tempat yang kami tuju setelah makan soto adalah sebuah warung es-krim yang katanya terkenal dan pernah masuk tv di acara wisata kuliner nya pak Bondan Winarno., namanya Ragusa. Sahabat ku mengatakan bahwa warung itu selalu ramai setiap dia lewat, namun belum ada kesempatan untuk singgah. Dan sekarang adalah waktunya tepat.

Begitu sampai di Ragusa, kami jalan kaki lagi dari warung soto ke Ragusa, saya langsung teringat dengan kedai Es Krim sejenis seperti Oen di Malang dan Tip-Top di Jogjakarta.  Sama-sama memakai embel-embel Italia dan mengaku membuat es krim nya sendiri. Bagaimana dengan rasanya ? seperti nya hampir mirip, hehe.

Sayangnya disini baterai hp saya sudah lemah, bagaimana tidak, sejak pagi sampai di gambir sampai siang ini hp saya dipaksa untuk on terus mencari informasi, foto dan lain sebagainya, sehingga saya tidak bisa mengabadikan kedai eskrim Ragusa dan menu yang saya pesan.

Selesai dari sini, kami mulai kebingungan, “mau kemana lagi ?”. Sebenarnya saya ingin mengajak sahabat saya mengunjungi pameran yang ada di monas, yang ketika saya datang tadi pagi masih belum buka. Namun beliau bukan seorang “pengangguran” seperti saya. Ada kewajiban yang harus diselesaikan, sehingga dia mengusulkan untuk menghabiskan waktu di kantornya saja, sehingga dia bisa bekerja dan kita tetap bisa berbincang-bincang.

Dan akhirnya kami melanjutkan perjalanan, masih dengan berjalan kaki, dari kedai es krim Ragusa ke Gambir, karena kantor nya kebetulan berada di depan stasiun kereta Gambir. Hal ini juga lah yang membuat saya menyetujui usulannya, saya pun tidak susah dan tidak terlalu jauh menuju stasiun untuk melanjutkan perjalanan.

Waktu berlalu, saya benar-benar menghabiskan waktu siang hingga sore di kantor sahabat ku itu. Selepas maghrib saya berpamitan, karena nyonya besar sudah tiba di stasiun dan saya harus segera menghampirinya sekaligus bersiap melanjutkan perjalanan ke Solo, Jawa Tengah.

Hari yang melelahkan namun menyenangkan, ternyata Ibu Kota Jakarta punya tempat wisata murah-meriah dan mudah dijangkau, bahkan dengan jalan kaki dan dengan waktu yang singkat. 🙂

 

Jakarta Pusat (iii)… Masjid Istiqlal

26 September 2014

Dari museum Gajah saya melanjutkan perjalanan menuju Masjid Istiqlal, saya bermaksud untuk sholat Jumat disana, sekaligus juga bertemu dengan seorang sahabat.

Perjalanan dari Museum Gajah ke Masjid Istiqlal memakan waktu kurang lebih 20 menit menurut peta di hp saya, saya berjalan ditemani matahari yang mulai bersinar terik, karena memang hari sudah menjelang siang, berbeda dengan ketika saya berjalan dari Monas menuju Museum Gajah yang sejuk dan dingin.

Peta di handphone saya mengarahkan menuju gerbang Istiqlal yang biasa untuk dilalui mobil, dan gerbang itu belum dibuka. Saya jadi agak sedikit bingung dibuatnya, “harus lewat mana kalau gerbang nya belum dibuka, beruntung di depan saya ada dua orang bapak-bapak yang sepertinya punya tujuan yang sama. Jadi saya ikuti saja mereka, dan sampai lah saya di Masjid Terbesar di Asia Tenggara ini.

Sekali lagi saya dibuat bingung dengan masjid ini, mungkin saking besarnya sehingga saya bingung pintu masuk dan tempat wudhu nya dimana, hahaha.

Kami bertemu didalam masjid, beberapa menit sebelum petugas menyampaikan beberapa pengumuman sebelum sholat dimulai. Sampai-sampai harus diletakan tv agar jamaah dibelakang bisa melihat khotib yang sedang ceramah.

Selesai sholat kami tidak segera keluar dari masjid, saran dari sahabat ku ini sebaiknya menunggu sejenak karena jalan keluar pasti akan sangat ramai. Jadilah kami mengobrol untuk menghabiskan waktu sembari menunggu sekaligus merencanakan hendak kemana setelah ini.

Jakarta Pusat (ii)…Museum Gajah

26 september 2014

Akhirnya saya beranjak dari tempat duduk dan bergabung dengan orang-orang yang sedang lari pagi mengelilingi tugu Monas, tapi saya tidak ikut berlari tapi cukup jalan saja, cuman saya salah mengambil rute. Jadi saya berjalan santai berlawanan arah dengan mereka yang asik lari pagi. hahaha. Agak aneh jadi rasanya.

Setelah mungkin satu putaran penuh, saya kembali melirik jam di hp, pukul delapan kurang sedikit. hmmm… mungkin sudah saatnya menepi, mencari tempat yang agak teduh mungkin sambil menunggu Monas buka untuk dikunjungi. Sudah jam delapan pas nih, tapi sepertinya belum ada tanda-tanda Monas membuka diri untuk para pelancong. Akhirnya saya coba lagi bertanya kepada mbah google dan sepertinya untuk hari jumat Monas buka jam 08.30, berarti saya harus menunggu setengah jam lagi. wah.. susah kalau begini, sayang rasanya menghabiskan waktu setengah jam hanya duduk-duduk disini.

Tampaknya rencana harus diubah, yang tadinya Monas, Istiqlal, kemudian museum gajah mungkin sebaiknya saya ke Museum Gajah terlebih dahulu, kemudian sholat jumat di Istiqlal baru kembali ke monas. Ok, fix.. sebaiknya memang ke Museum Gajah terlebih dahulu. Menurut peta di hp saya, perjalanan dari tempat saya duduk ke Museum gajah sekitar 15 menit. Berangkat..

Sebenarnya Museum Gajah dan Monas ini memang dekat, jika saja semua pintu monas dibuka maka kita cukup menyebrang dan tidak perlu memutar. Sayang kemaren saya tidak sempat mengambil screen shot jalur dari google maps nya untuk menunjukan jalan yang saya lewati.

Cukup menyenangkan berjalan menuju Museum Gajah dari Monas, mungkin karena masih pagi, sehingga cuaca tidak terlalu panas. Sesampainya disana, saya agak kaget juga melihat bangunan museum nya, rapi dan megah, tidak tampak sepertinya museum yang pernah saya kunjungi sebelumnya.
IMG_20140926_083326IMG_20140926_083117

 

Pagi itu suasana museum cukup ramai, tampaknya sedang ada kunjungan dari beberapa sekolah. Membayar tiket sebesar Rp.5000,- kemudian menitipkan tas dan saya pun bebas melihat-lihat koleksi yang terdapat di museum ini.

Bangunan utama museum ini cukup luas, dibagi menjadi beberapa bagian untuk memisahkan koleksi-koleksi nya, antara lain koleksi purbakala, keramik, numismatik, serta adat dan budaya. Selain itu ada bangunan baru 3 lantai disebelahnya, disana juga ada banyak koleksi yang menarik, sepertinya teman-teman harus melihatnya sendiri.

IMG_20140926_084449IMG_20140926_084601Cukup lama saya berada disana, dan belum semua bagian saya kunjungi namun waktu sudah menunjukan pukul 10, dan perjalanan harus segera dilanjutkan. Ya, 20 menit perjalanan menuju masjid Istiqlal untuk sholat jumat dan bertemu seorang sahabat disana..