Museum Keris Nusantara…

Cerita Korea-nya kita pending dulu ya, Saya mau kasih tau tempat wisata baru di Solo soale. 🙂

Hari minggu kemarin (20 Agustus) saya mudik ke Solo, karena ada acara resepsi pernikahan sepupu. Setelah rangkaian acara selesai, langsung cari-cari informasi ada event apa yang sedang di gelar di kota ini, gak mau rugi udah jauh-jauh dari Sumatera sampai ke Solo masa gak jalan-jalan. Ternyata ada museum yang baru diresmikan tanggal 9 Agustus lalu oleh bapak presiden, namanya Museum Keris. Karena museum biasanya tutup pada hari senin, jadilah saya memundurkan waktu kepulangan menjadi hari Selasa agar bisa mampir melihat museum ini.

Lokasinya gak jauh dari taman Sriwedari, bersebelahan dengan stadion di Jalan Bhayangkara. Gak susah kok nemuin Museum Keris ini. Museum ini merupakan gagasan pak Jokowi sewaktu beliau masih menjadi walikota Solo. Namun pembangunan gedung museum ini baru dimulai secara bertahap sejak tahun 2013.

Gedung Museum Keris ini terdiri dari 1 basement yang dimanfaatkan sebagai tempat parkir, dan 4 lantai sebagai ruang pamer. Terdapat lift yang menyambungkan semua lantai-nya. Jadi kalau capek naek tangga, bisa naek lift.

Di lantai 1 yang merupakan lobi, terdapat ruang audio visual pada sisi sebelah kanan dan kiri, kemudian meja loket dan informasi. Kabarnya pengunjung yang ingin masuk ke museum ini akan dikenakan biaya sebesar Rp.6000,- per orangnya, namun selama bulan agustus ini masih gratis. Mungkin masih promosi ya. 🙂

 

Naik ke lantai 2 kita mulai bisa menikmati koleksi dari Museum Keris ini, selain itu disuguhkan juga informasi tentang keris dan bagian-bagian keris. Di lantai 2 ini juga ada tempat bermain untuk anak-anak dan perpustakaan. Koleksi buku-bukunya tidak jauh dari masalah keris dan budaya baik tentang kota Solo maupun kota-kota lain di Indonesia. Tapi sepertinya koleksi bukunya perlu diperbanyak, soale rak nya masih banyak yang kosong.

di Lantai 3 selain memajang beberapa koleksi keris, ada juga diorama tentang pembuatan keris. Lalu ada informasi proses pembuatan keris dan rangkaian sesaji ketika akan membuat keris.


Lantai 4 sepertinya merupakan ruang pamer utama, disini selain keris dari tanah jawa, ada juga keris dari bali, sulawesi dan sumatera. Selain keris ada juga beberapa koleksi tombang dan parang.


Sedikit obrolan dengan petugas kebetulan yang ada disana, keris yang dipajang disini merupakan hibah dan pinjaman dari pribadi, tertulis di keterangan masing-masing keris yang dipamerkan. Dan katanya lagi masih ada sekitar 300-an lagi koleksi keris yang masih akan dipamerkan. Dan ada kabar bahwa pemerintah Belanda akan menyerahkan koleksi keris yang mereka miliki untuk kemudian disimpan dan dipamerkan di Museum Keris Nusantara ini.

Ketika saya bertanya, koleksi yang paling tua dan mempunyai nilai sejarah paling tinggi yang mana, bapak petugas yang saya lupa tanya namanya itu menjawab.

“semua koleksi kita disini berharga mas, baik usia maupun nilai sejarah-nya”
“semua keris disini berusia lebih dari 100 tahun”
“semuanya sudah di teliti terlebih dahulu oleh tim kurator kita sebelum kemudian bisa dipajang dimuseum ini”

Lalu bapak itu membawa saya ke salah satu kotak tempat beberapa keris dipamerkan, lalu beliau mengatakan,

“ini keris yang paling tua, ini diperkirakan dibuat pada jaman sebelum kerajaan Singosari”
“pada waktu itu para pembuat keris belum mengenal cara mencampur besi untuk membentuk pamor (motif)”
“ini bentuk awal daripada keris, masih sederhana, dan kemudian berkembang menjadi seperti sekarang ini”

 

Ketika saya bertanya mana keris yang paling mahal, beliau pun mengajak saya kembali ke bagian tengah, dan mengatakan “ini semua keris yang mahal, semua keris-keris ini ditaksir harganya antara 3 – 15 milyar”

Mendengar itu, gak ada komentar yang keluar dari mulut saya, cuman decak kagum yang ada.

Obrolan santai pun terus berlanjut, kebetulan ruangan sudah agak sepi. Sang bapak menjelaskan apapun yang saya tanyakan, baik itu soal keris maupun tentang Museum nya sendiri. Beliau pun sempat memperlihatkan foto nya ketika mendampingi pak Jokowi ketika pembukaan 9 Agustus yang lalu. Dan saya bener-bener bodoh gak nanya siapa namanya.

Penasaran dengan koleksi-koleksi keris dari Museum Keris Nusantara? atau hobi dengan keris? Atau pengen dateng ke tempat Wisata yang sedikit berbeda waktu berkunjung ke Solo. Monggo, mampir ke Museum Keris Nusantara. 🙂

Iklan

Seoul…Changgyeonggung & Changdeokgung Palace…

Setelah dua hari tidak pergi kemana-mana karena isteri ada acara kantor di Daegu. Hari jumat (21 juli 2017) kami berangkat ke Seoul.

Sebelumnya kami sudah memesan penginapan, Golen Pond Guesthouse yang berlokasi di Hyewa. Alasan kami memilih penginapan ini selain harganya yang cukup murah juga karena lokasinya yang ada dipusat kota, dekat dengan subway, dan dekat dengan istana Changgyeonggung.

Perjalanan dari Daejeon ke Seoul kurang lebih 2.5 jam, kami memilih menggunakan bis intercity daripada kereta, alasannya tentu saja karena lebih murah. 🙂
Sampai di Seoul Station langsung nyebrang ke Stasiun Subway dan melanjutkan perjalanan ke stasiun Hyewa. Keluar di exit 4 jalan sedikit sekitar 5 menit kami sudah sampai di Golden Pond Guesthouse.

Tidak mau buang-buang waktu, setelah selesai reservasi dan meletakan barang-barang. Kami langsung keluar untuk mengunjungi Istana Changgyeonggung. Gak jauh, kurang lebih jalan kaki sekitar 5-10 menit saja dan kami sudah sampai di gerbang Istana Changgyeonggung.

Kami gak tau apa-apa soal Istana Changgyeonggung ini, bahkan nama istana inipun kami ketahui belakangan, setelah sampai di lokasi. Pokoknya ada istana di dekat penginapan kami.

Sore itu keadaan istana Changgyeonggung cukup lengang, bahkan cenderung sepi, tidak ada antrian di tempat penjualan tiket, bahkan ketika kami masuk pun hanya ada beberapa pengunjung.

Istana Changgyeonggung ternyata sangat luas, dari bangunan utama, dibelakangnya masih ada banyak bangunan-bangunan lain yang sumpah saya gak tau itu fungsinya buat apa aja. 🙂

Karena gak ada booklet informasi di tempat penjualan tiket, jadi ya kami bebas aja sesuka hati mau kemana-mana, semua bangunan di samperin terus foto-foto haha. Pokoknya jalan dengan perasaan penuh kekaguman, terutama saya, karena khirnya bisa melihat langsung bangunan istana yang dulu cuman bisa dilihat melalui layar kaca.
Saya kebayang kalau kami kesini pas musim dimana warna daun nya mulai berubah jadi coklat atau merah itu, pasti lebih bagus lagi taman di Changgyeonggung ini. 🙂


Istana Changgyeonggung ini ternyata tersambung dengan Istana Changdeokgung ya, yang ada Secret Garden nya itu. Sayangnya secret garden nya tutup karena waktu itu sudah pukul 5 sore. Jadi kami hanya jalan-jalan menyusuri komplek Istana sambil ditemani petugas yang sepertinya bertugas untuk menutup semua pintu dan jendela bangunan-bangunan Istana yang dibuka untuk pengunjung. Ya tidak lama lagi Istana Changdeokgung akan ditutup.


Jadi kami masuk melalui gerbang Istana Changgyeonggung dan keluar dari Istana Changdeokgung. Lumayan dapet dua Istana sekaligus walaupun tidak maksimal karena keterbatasan waktu dan informasi. Karena katanya yang terkenal ya Istana Changdeokgung, jadi harusnya kami ke Changdeokgung dulu baru ke Changyeonggung. 🙂

 

IT’S DAEJEON…O-World

Kata google, Daejeon itu kota pelajar-nya Korea. Hal itu mungkin disebabkan karena ada banyak kampus disini, termasuk diantaranya KAIST (Korea Advanced Institute of Science & Technology) yang katanya Universitas Teknologi paling top di Korea. Selain banyak kampus, mungkin juga karena suasananya yang jauh lebih tenang dibandingkan Seoul hingga Daejeon cocok untuk menjadi kota pelajar.

Daejeon punya banyak objek wisata, yang saya tau di Daejeon ada banyak Taman dan Museum. Salah satu nya adalah O-World. Saya gak tau kenapa namanya begitu, apakah ada singkatan dari huruf “O” nya atau apa. he

Terima kasih atas kecanggihan teknologi sekarang, sehingga kami tidak kesulitan untuk menuju ke O-World ini. Jadi kalau teman-teman mau kesini, bingung harus naek apa dan bingung kalau mau tanya orang gak ngerti bahasanya. Tanya aja ke mbah google, dengan senang hati dia akan menjawab kita harus naek bis apa dan turun dimana. he

O-World ini sepertinya gabungan antara taman bermain, kebun binatang dan taman bunga. Jadi gak tau harus gimana nyebutnya. Tempat nya luas banget, liat aja guide map disamping ini.
Kami kesini pagi (saking paginya toko-toko souvenirnya gak ada yang buka.. haha ) dan beli tiket yang biasa individual seharga 12000 won, jadi hanya bisa masuk ke taman bunga dan kebun binatang nya aja, itu pun sudah memakan waktu hampir seharian.
Kalau ditambah taman burung dan menjajal bermacam wahana permainan disana serta ikut safari tour bisa sampai malam mungkin ya ?. he

 






Taman ini cocok bener buat tamasya keluarga, soale komplit, ada taman bermain buat anak-anak, ada taman bunga buat ibu dan mbak-mbak, ada taman burung buat bapak-bapak kicau mania. he Apalagi buat yang hobi foto-foto, pas bener dah disini. 🙂

Kalau mau kesini, coba cari-cari informasi siapa tau sedang ada event spesial. Kemarin itu pas kami datang sedang persiapan festival lampion atau apa gitu, cuman yah kita gak ada kesempatan buat datang lagi kesana untuk melihat seperti apa kemeriahan O-World di malam hari diterangi dengan lampu warna-warni. Ya semoga lain waktu ada kesempatan lagi buat ke Daejeon terus mampir lagi ke O-World.

maap foto-foto nya kurang banyak dan kurang bagus, tapi yakinlah. aslinya jauh lebih menarik

 

 

it’s Daejeon…annyeong

Tanggal 17 Juli 2017 kira-kira jam 9 pagi saya mendarat di Bandara Incheon, Korea. Cerita kawan-kawan di forum jalan2.com, bandara Incheon ini besar sangat, tapi saya gak sempat meng-eksplore bandara ini, karena isteri saya sudah menunggu dan kita akan langsung menuju Daejeon.

Ya isteri saya sedang berada di Korea sampai bulan Oktober mendatang untuk tugas belajar, isteri saya ini lah yang membuat saya akhirnya saya bisa juga jalan-jalan ke Korea, tapi saya pergi dengan biaya sendiri ya, 🙂

Perjalanan kurang lebih 2.5-3 jam menggunakan bis dari Bandara Incheon menuju Daejeon dengan tiket seharga 23000 won per orang. Sekitar pukul 2 sore kami akhirnya sampai di kost (saya menyebutnya begitu, hehe). Kita istirahat sambil membongkar muatan yang saya bawa dari Indonesia dan merencanakan kegiatan selama empat belas hari kedepan.

Mana saja tempat-tempat yang ingin di kunjungi di Korea ini, segera kita buat daftar-nya. Seoul dan Busan langsung masuk ke dalam daftar. Kemudian dari situ daftar objek wisatanya bertambah panjang, walaupun pada akhirnya banyak yang harus di coret karena keterbatasan waktu dan juga dana. he

“besok kita kemana?” tanya saya
isteri saya menjawab, “besok kita ke O-World”

Fight Korea…

Gak ada maksud apa-apa dengan judulnya 🙂

Alhamdulillah, keinginan buat jalan-jalan ke luar negeri akhirnya terwujud, padahal dulu mintanya ke Singapura atau Malaysia aja yang deket-deket, ee ternyata dikabulkan-Nya ke Korea. Walaupun persiapannya agak terburu-buru, Korea kan perlu visa, dan pembuatan visa perlu waktu dan ada syarat-syarat yang harus di penuhi. Sekali lagi Alhamdulillah semuanya beres tepat pada waktunya.

Saya berangkat ke Korea tanggal 16 Juli 2017 dan kembali lagi ke Indonesia tanggal 30 Juli 2017, kurang lebih dua minggu disana, waktu yang cukup panjang namun masih terasa kurang. Karena masih banyak tempat-tempat yang ingin dikunjungi namun belum kesampaian. Seoul dan Busan jadi tujuan utama selama di Korea, selebihnya sisa waktu liburan saya habiskan di Daejeon.

Kedepan postingan bakalan di isi cerita-cerita selama di Korea, boleh kan ya ? 🙂

Selat Solo…

bilangnya mau post pas bulan puasa kemaren, ini syawal udah mau habis belum terealisasi juga.. haha
dasar manusia..

Buat bayar utang nih, he. Saya mau cerita soal makanan yang jadi salah satu favorit saya, namanya Selat Solo. Sesuai namanya makanan ini menjadi khas di Solo Raya. Tapi bagaimana ceritanya hingga makanan ini bisa menjadi makanan khas kota Solo? ini yang masih belum saya temukan jawabannya. Sama halnya kalau kita tanya kenapa namanya “Selat”, jawaban orang pada umumnya akan mengatakan Selat diambil dari Salad.

Kita tau Salad itu makanan orang bule yang isinya cuman sayur-sayur trus dikasih saos mayones. Untuk sayur dan saos mayonesnya mungkin mirip, tapi salad kan sayurnya mentah, sedangkan selat sayurnya di rebus. Tambah lagi selat ada kuah dan dagingnya. Jauh sekali dari salad kan ?.

Kayaknya bakalan panjang kalau kita ngomongin asal-usul selat ya, biar lain kali aja kita bahas lagi, he
sekarang kita daftar dimana tempat makan selat yang enak dan pernah saya cicipin..

1. Selat Vien’s
Di warung inilah saya pertama kali berkenalan dengan selat, sekitar tahun 2009-an lah. Tapi ketika pertama kali kesini saya justru pesennya gado-gado. he. soale yang ngajak ke Vien’s ini gak ngomong apa-apa soal selat solo, dan saya gak mau ambil resiko pesen makanan yang saya tidak tahu. Begitu pesenan datang, kok keliatannya enak, langsung deh saya tukar.. hahaha

2. RM Kusuma Sari
Ini baru saya coba sekitar akhir tahun lalu, gara-garanya pengen makan es-krim, dan gak tau kalau ternyata ada selat nya juga, jadinya saya pesan dua-duanya 🙂 . Setelah dari sana baru tau kalau RM Kusuma Sari ternyata terkenal, pantesan tempatnya ramai. Tempat ini cocok buat acara makan-makan keluarga. Lokasinya ada di pusat kota dan menu nya lengkap banget, gak cuman ada Es krim dan Selat, tapi ada ayam goreng dan aneka menu makanan lain yang cocok untuk satu keluarga dengan selera makan berbeda-beda.

3. Selat Solo mbak Lies
Tempat nya sedikit agak jauh dari pusat kota, tapi jangan salah, namanya sudah terkenal sampai kemana-mana, makanya saya bela-belain kesana waktu cuti beberapa bulan lalu. Menu makanan yang disajikan di tempat ini ya cuman selat, kalaupun ada variasi hanya dagingnya yang beda.. atau apa gitu, saya agak-agak lupa 🙂 . Tempatnya menarik, banyak pernak-pernik keramik, kemudian foto-foto orang terkenal yang pernah berkunjung kesana di pajang di dinding dengan bingkai warna-warni, dan pelayannya pake baju ala Belanda lho, unik kan? he

Sayangnya saya gak sempat foto-foto makanan dan tempatnya, maklum pas kemaren gak kepikiran buat di posting di blog, makan ya makan aja, he. Tapi coba aja temen-temen googling, kayaknya banyak deh review-review soal selat di tiga tempat yang saya tulis ini. Atau ada tempat lain yang direkomendasikan? jadi ntar pas pulang Solo bisa tak cobain.. he

Nah itu kalau di Solo, tempat lain gimana ?? di Tangsel ada! he. Saya dan istri sekarang memang tinggal di Tangsel, tepatnya di Pamulang. Untuk urusan kuliner daerah Tangsel saya bisa bilang cukup lengkap, namun tetep kadang ya masih ada aja yang kurang, kayak ini nih, pas lagi kepengen makan selat solo.

Tapi berkat bantuan teknologi canggih, secara tidak sengaja saya menemukan tempat makan yang menyediakan Selat Solo dalam menunya dan tempatnya tidak jauh dari Pamulang. Nama resto nya Dapur Solo, dari nama aja udah jelas la ya, gak perlu dipertanyakan lagi.. haha

Saya gak bahas yang laen, takut dikira promosi, pokoknya di Dapur Solo ada Selat, dan enak.. itu aja, harganya gimana? harganya kalau menurut saya pas, cukup terjangkau. Dari pada harus pulang ke Solo.. hayoo? he. Dan untuk kali ini saya sempatkan untuk mengambil foto selat-nya Dapur Solo. 🙂

Sebenarnya ada satu lagi tempat makan yang di menu nya menyajikan selat solo, di Vila Dago, Pamulang ada tempat makan namanya Bakmi Djowo. Tapi beberapa kali saya kesana mau pesen selat, selalu tidak tersedia. Gak tau memang sudah habis atau memang gak bikin lagi tapi lupa menghapus daftar di menu nya. he

Nah, itulah cerita saya tentang Selat Solo, sudah pernah coba? baru denger? atau makanan favorit-nya juga?

Selamat Berbuka Puasa…

Hahaha.. parah nih..

udah bulan Juni aja, padahal awal tahun bilangnya mau rajin-rajin nge-post karena banyak yang mau diceritain..

ya apa mau dikata, rencana dan kenyataan ternyata tidak sejalan..

sekarang gimana ? sudah bisa dimulai ?

hmm… seperti nya bisa, gimana kalau kita coba nanti malam, sehabis taraweh ?

 

-selamat berbuka puasa buat kawan-kawan di Sumsel dan sekitarnya..

17 ramadhan 1438 H

2017…

Dari kemaren pengen posting, tapi selalu lupa, pas inget bahan nya gak dibawa.. he (banyak alasan ya).

Kemaren kan niatnya tiap bulan selalu ada postingan ya, dan sekarang januari dan februari lewat gitu aja, berasa dejavu saya, perasaan udah pernah kejadian kayak gini, hampir tiap tahun mungkin ya… hahaha

Semoga besok lancar lah postingannya. Saya mau cerita tentang buku karya Rizky Ridyasmara selain the Escaped, kemudian saya mau cerita juga soal makanan khas dari Solo, sedikit cerita jalan-jalan ketika cuti kemarin, dan beberapa cerita jalan-jalan tahun lalu yang belum sempat diceritakan…

Yah semoga besok di site sinyal internet bagus trus banyak waktu luang biar sempat nulis 🙂

Jordan Toys….

yeaaaah..  ada toko tamiya baru di Teko, gak harus jauh-jauh ke Grha Tamiya di Gading Serpong..he

kapan tempat ini dibuka saya gak terlalu tau juga, yang jelas ketika terakhir saya cuti awal bulan ini dan menyempatkan mampir ke Teras Kota, diantara gerai makanan disana, mata ini tertuju ke sebuah tulisan dengan lambang dua bintang yang sangat familiar.. haha

toko nya cukup lengkap, kit, spare part, aksesoris, bahkan trek untuk balapan juga ada. Semua ditata rapi ditempat yang gak terlalu luas. kebayang pas ada race, pasti penuh bener..

img-20161219-wa0005

Jordan Toys nama toko nya, sama dengan toko mainan di Lampung, gak tau apa ada hubungannya atau sekedar sama namanya saja. Yang jelas, ini bakalan jadi tempat wajib untuk didatangi kalau pas lagi cuti. he

Dua Desember…

Sudah hampir satu minggu berlalu, tapi perasaan haru pada jumat 2 desember yang lalu masih terasa ketika melihat foto dan membaca kisah cerita yang juga masih ramai beredar di media sosial.

Aku hanya ingin bercerita sedikit tentang 212-ku, mungkin sudah banyak cerita dan posting tentang 212, tapi ini 212-ku.
212-4

Sebenarnya keinginan untuk ikut serta dalam aksi 212 itu datang terlambat. Dua hari sebelum hari H aku sedikit gelisah dengan sebuah status yang kubaca di facebook. “kamu ada di pihak mana?”

Aku tidak terlalu mengikuti berita soal aksi 411, yang aku tahu aksi yang bertujuan untuk menuntut agar orang yang dianggap sudah menghina agama kami itu dihukum berjalan dengan damai. Kabar selanjutnya, yang bersangkutan ditetapkan menjadi tersangka, namun ternyata hal itu belum cukup memuaskan, sehingga beredar isu akan diadakan lagi aksi lanjutan, Aksi Bela Islam III.  Awalnya diberitakan aksi akan dilakukan pada tanggal 25 November, namun tidak terjadi apa-apa pada tanggal tersebut, baru setelah itu muncul berita terbaru bahwa aksi akan dilakukan pada hari jumat tanggal 2 Desember.

Seperti yang kubilang sebelumnya, sebuah status di facebook membuatku galau sebelum akhirnya aku putuskan untuk turut serta ambil bagian pada aksi tersebut. Aku dibuat bimbang dengan dengan pertanyaan itu. Sepertinya keimananku yang dipertanyakan.

“Siapa yang kamu bela?”
“kau tidak marah kitab suci mu dihina? Dianggap alat kebohongan?”
“apakah bagiku cukup hanya dengan mendoakan saja agar aksi berjalan lancer?”
“kau takut? malu? Dianggap tidak toleran? “

Sial, aku benar-benar bingung dan tidak tahu jawabanya, sampai istri ku tiba-tiba bertanya, “mas bener mau ikutan demo besok?”  pertanyaan itu pun tetap kujawab tanpa kepastian “pengen sih, tapi…”

“coba tanya kak Ali, kemaren dia ikut waktu 411, siapa tau besok dia ikut lagi, ntar bareng aja” bilang istri ku seperti tahu kebingunganku.

Mendengar itu langsung kuhubungi kakak sepupuku itu, tapi ternyata beliau tidak turut serta untuk aksi besok karena ibu nya melarang. Namun beliau berkata kepadaku “ikut aja jel, niatkan karena Allah, gak apa sendirian, nanti juga ketemu jamaah disana, berangkat dari stasiun Rawa Buntu juga udah ketemu pasti dengan jamaah yang laen”

Percakapan kami lewat bbm itu berakhir dengan bismillah, aku niatkan untuk turut serta besok (2 des).

Kupersiapkan malam nya semua yang disarankan untuk dibawa seperti disebarkan oleh broadcast bbm untuk jamaah yang ingin turut serta pada aksi 212, sajadah, mantel, air mineral (untuk minum dan wudhu), makanan kecil, obat diare, dll. Aku tidak punya baju koko putih, jadi kupakai saja kaos putih lengan panjang.

Keesokan harinya, setelah mengantar istri ke kantor, aku langsung menuju stasiun Rawa Buntu. Perjalanan ke monas yang kutahu, dari Rawa Buntu turun di Tanah Abang, lanjut ke stasiun Juanda, jalan ke Monas. Maklum, kami belum resmi jadi warga tangsel, walaupun istri sudah hampir lima tahun kerja di tangsel. Aku masih pulang pergi sekayu-tangsel. Jadi kalau ditanya arah kemana-kemana masih bingung. He

Aku tidak menyangka Rawa Buntu akan seramai ini, stasiun dipenuhi dengan jamaah peserta aksi yang ingin pergi ke monas, bahkan sebuah posko sudah berdiri di area stasiun. Mereka membagikan bekal makanan dan air minum kepada semua orang yang hendak turut serta dalam aksi 212.

Gerbong yang biasanya penuh, kali ini lebih padat lagi. Benar, aku merasa tidak sendirian walaupun masih sedikit bingung ntar ke monas nya gimana. He

Perjalanan dari sta.Rawa Buntu sampai ke sta.Tanah Abang melewati lima stasiun, ditiap stasiun pun ramai dengan jamaah yang hendak turut serta mengikuti aksi 212.

Sampai sta.Tanah Abang, ketika hendak berpindah jalur untuk melanjutkan perjalanan ke sta.Juanda, secara tidak sengaja, aku mendengar salah satu rombongan berkata “kita jalan aja, tuh pada jalan semua” sambil menunjuk keluar stasiun. Akupun melihat kearah yang ditunjuk mereka, dan ternyata para jamaah peserta aksi 212 memang jalan kaki beramai-ramai menuju monas. Tanpa pikir panjang lagi langsung kuikuti rombongan tersebut.
212-2 212-1

Waa, ternyata jalan diluar stasiun sudah ramai dengan jamaah yang berpakain putih dengan bermacam atribut, ada yang membawa poster, ikat kepala, bendera organisasi, bendera merah putih. Aku segera bergabung dengan kerumunan tersebut. Teriakan takbir dari atas mengejutkan ku, kujawab takbir itu sambil menengok kearah sumber suara. Didepan sta.Tanah Abang ada jalan layang, dan jalan itupun ternyata penuh dengan jamaah yang entah aku tidak tau mereka mulai berjalan dari mana. Yang pasti mereka sama-sama peserta aksi 212 dan sama-sama hendak ke monas.
212-5 212-3

Didepan ternyata lebih ramai lagi, alhasil jalan yang lebar itu penuh dengan jamaah peserta aksi dan membuat kendaraan harus sedikit mengalah. Beberapa mobil ada yang parkir ditengah jalan, dan ternyata itu adalah mobil logistik (tertempel tulisan dimobilnya) mereka membagikan makanan mulai dari roti, kue, sampai nasi kotak kepada para jamaah peserta aksi secara cuma-cuma. Mobil-mobil logistik seperti ini banyak sekali, kami tidak pernah kekurangan air maupun makanan selama perjalanan dan aksi.

Satu rombongan memulai bersholawat yang diikuti oleh seluruh jamaah yang berjalan kaki menuju monas, disitu air mataku mengalir tanpa sadar. Diselingi oleh teriakan takbir. Tangisku pecah walaupun tidak sampai terisak, entah apa yang kurasa saat itu. Yang jelas dada ini seolah bergemuruh, ada haru dan kebahagian serta rasa malu yang bercampur.

Jalan menjadi semakin sempit karena jamaah peserta aksi semakin bertambah seiring mendekati monas, sampai akhirnya rombongan terhenti di bundaran gedung indosat dekat patung kuda. Disana sudah sangat ramai, suara dari load speaker mengatakan monas sudah sangat penuh dan tidak bisa lagi menampung jamaah. Langkah ku pun terhenti disini.

Aku dan jamaah lain yang tidak bisa lanjut lagi ke dalam monas mengikuti jalannya aksi damai disini. Air mata kembali tumpah mendengarkan tausiyah dan doa dari para ustadz yang silih berganti berbicara. Dibawah guyuran hujan kami melaksanakan sholat jumat dan memanjatkan doa. Kemudian dengan tertib jamaah membubarkan diri.

Terlepas dari apa yang dituntut oleh aksi 212 ini, aku benar-benar bersyukur berada disini, aku benar-benar bersyukur pada akhirnya kuputuskan untuk turut serta dalam aksi ini.

Aku ada di pihak-MU ya ALLAH…