Dua Desember…

Sudah hampir satu minggu berlalu, tapi perasaan haru pada jumat 2 desember yang lalu masih terasa ketika melihat foto dan membaca kisah cerita yang juga masih ramai beredar di media sosial.

Aku hanya ingin bercerita sedikit tentang 212-ku, mungkin sudah banyak cerita dan posting tentang 212, tapi ini 212-ku.
212-4

Sebenarnya keinginan untuk ikut serta dalam aksi 212 itu datang terlambat. Dua hari sebelum hari H aku sedikit gelisah dengan sebuah status yang kubaca di facebook. “kamu ada di pihak mana?”

Aku tidak terlalu mengikuti berita soal aksi 411, yang aku tahu aksi yang bertujuan untuk menuntut agar orang yang dianggap sudah menghina agama kami itu dihukum berjalan dengan damai. Kabar selanjutnya, yang bersangkutan ditetapkan menjadi tersangka, namun ternyata hal itu belum cukup memuaskan, sehingga beredar isu akan diadakan lagi aksi lanjutan, Aksi Bela Islam III.  Awalnya diberitakan aksi akan dilakukan pada tanggal 25 November, namun tidak terjadi apa-apa pada tanggal tersebut, baru setelah itu muncul berita terbaru bahwa aksi akan dilakukan pada hari jumat tanggal 2 Desember.

Seperti yang kubilang sebelumnya, sebuah status di facebook membuatku galau sebelum akhirnya aku putuskan untuk turut serta ambil bagian pada aksi tersebut. Aku dibuat bimbang dengan dengan pertanyaan itu. Sepertinya keimananku yang dipertanyakan.

“Siapa yang kamu bela?”
“kau tidak marah kitab suci mu dihina? Dianggap alat kebohongan?”
“apakah bagiku cukup hanya dengan mendoakan saja agar aksi berjalan lancer?”
“kau takut? malu? Dianggap tidak toleran? “

Sial, aku benar-benar bingung dan tidak tahu jawabanya, sampai istri ku tiba-tiba bertanya, “mas bener mau ikutan demo besok?”  pertanyaan itu pun tetap kujawab tanpa kepastian “pengen sih, tapi…”

“coba tanya kak Ali, kemaren dia ikut waktu 411, siapa tau besok dia ikut lagi, ntar bareng aja” bilang istri ku seperti tahu kebingunganku.

Mendengar itu langsung kuhubungi kakak sepupuku itu, tapi ternyata beliau tidak turut serta untuk aksi besok karena ibu nya melarang. Namun beliau berkata kepadaku “ikut aja jel, niatkan karena Allah, gak apa sendirian, nanti juga ketemu jamaah disana, berangkat dari stasiun Rawa Buntu juga udah ketemu pasti dengan jamaah yang laen”

Percakapan kami lewat bbm itu berakhir dengan bismillah, aku niatkan untuk turut serta besok (2 des).

Kupersiapkan malam nya semua yang disarankan untuk dibawa seperti disebarkan oleh broadcast bbm untuk jamaah yang ingin turut serta pada aksi 212, sajadah, mantel, air mineral (untuk minum dan wudhu), makanan kecil, obat diare, dll. Aku tidak punya baju koko putih, jadi kupakai saja kaos putih lengan panjang.

Keesokan harinya, setelah mengantar istri ke kantor, aku langsung menuju stasiun Rawa Buntu. Perjalanan ke monas yang kutahu, dari Rawa Buntu turun di Tanah Abang, lanjut ke stasiun Juanda, jalan ke Monas. Maklum, kami belum resmi jadi warga tangsel, walaupun istri sudah hampir lima tahun kerja di tangsel. Aku masih pulang pergi sekayu-tangsel. Jadi kalau ditanya arah kemana-kemana masih bingung. He

Aku tidak menyangka Rawa Buntu akan seramai ini, stasiun dipenuhi dengan jamaah peserta aksi yang ingin pergi ke monas, bahkan sebuah posko sudah berdiri di area stasiun. Mereka membagikan bekal makanan dan air minum kepada semua orang yang hendak turut serta dalam aksi 212.

Gerbong yang biasanya penuh, kali ini lebih padat lagi. Benar, aku merasa tidak sendirian walaupun masih sedikit bingung ntar ke monas nya gimana. He

Perjalanan dari sta.Rawa Buntu sampai ke sta.Tanah Abang melewati lima stasiun, ditiap stasiun pun ramai dengan jamaah yang hendak turut serta mengikuti aksi 212.

Sampai sta.Tanah Abang, ketika hendak berpindah jalur untuk melanjutkan perjalanan ke sta.Juanda, secara tidak sengaja, aku mendengar salah satu rombongan berkata “kita jalan aja, tuh pada jalan semua” sambil menunjuk keluar stasiun. Akupun melihat kearah yang ditunjuk mereka, dan ternyata para jamaah peserta aksi 212 memang jalan kaki beramai-ramai menuju monas. Tanpa pikir panjang lagi langsung kuikuti rombongan tersebut.
212-2 212-1

Waa, ternyata jalan diluar stasiun sudah ramai dengan jamaah yang berpakain putih dengan bermacam atribut, ada yang membawa poster, ikat kepala, bendera organisasi, bendera merah putih. Aku segera bergabung dengan kerumunan tersebut. Teriakan takbir dari atas mengejutkan ku, kujawab takbir itu sambil menengok kearah sumber suara. Didepan sta.Tanah Abang ada jalan layang, dan jalan itupun ternyata penuh dengan jamaah yang entah aku tidak tau mereka mulai berjalan dari mana. Yang pasti mereka sama-sama peserta aksi 212 dan sama-sama hendak ke monas.
212-5 212-3

Didepan ternyata lebih ramai lagi, alhasil jalan yang lebar itu penuh dengan jamaah peserta aksi dan membuat kendaraan harus sedikit mengalah. Beberapa mobil ada yang parkir ditengah jalan, dan ternyata itu adalah mobil logistik (tertempel tulisan dimobilnya) mereka membagikan makanan mulai dari roti, kue, sampai nasi kotak kepada para jamaah peserta aksi secara cuma-cuma. Mobil-mobil logistik seperti ini banyak sekali, kami tidak pernah kekurangan air maupun makanan selama perjalanan dan aksi.

Satu rombongan memulai bersholawat yang diikuti oleh seluruh jamaah yang berjalan kaki menuju monas, disitu air mataku mengalir tanpa sadar. Diselingi oleh teriakan takbir. Tangisku pecah walaupun tidak sampai terisak, entah apa yang kurasa saat itu. Yang jelas dada ini seolah bergemuruh, ada haru dan kebahagian serta rasa malu yang bercampur.

Jalan menjadi semakin sempit karena jamaah peserta aksi semakin bertambah seiring mendekati monas, sampai akhirnya rombongan terhenti di bundaran gedung indosat dekat patung kuda. Disana sudah sangat ramai, suara dari load speaker mengatakan monas sudah sangat penuh dan tidak bisa lagi menampung jamaah. Langkah ku pun terhenti disini.

Aku dan jamaah lain yang tidak bisa lanjut lagi ke dalam monas mengikuti jalannya aksi damai disini. Air mata kembali tumpah mendengarkan tausiyah dan doa dari para ustadz yang silih berganti berbicara. Dibawah guyuran hujan kami melaksanakan sholat jumat dan memanjatkan doa. Kemudian dengan tertib jamaah membubarkan diri.

Terlepas dari apa yang dituntut oleh aksi 212 ini, aku benar-benar bersyukur berada disini, aku benar-benar bersyukur pada akhirnya kuputuskan untuk turut serta dalam aksi ini.

Aku ada di pihak-MU ya ALLAH…