Sardibu jam Sembilan Pagi….

Hari ini tanggal 31 Desember 2008. sebagian orang mungkin sedang sibuk menyusun rencana untuk melakukan bermacam aktivitas atau bepergian ke suatu tempat nanti malam. Untuk apa ?? untuk merayakan apa yang sebagian besar orang menyebutnya dengan tahun baru.

Jika saya berbicara seperti ini maka akan ada sebagian pihak yang langsung menyahut.
” memangnya tidak boleh ??”
” apa salahnya merayakan tahun baru… ??”
” bersenang-senang menyambut pergantian tahun dilarang gitu ??.. ”

Hmm… tidak tahu juga saya harus menjawab apa ketika diberi pertanyaan seperti itu. Dan itu memang hak kalian semua…

Sejujurnya saya juga tidak terlalu ambil pusing dengan tahun baru ini, yang mau merayakan ya mangga, silahkan. yang tidak, ya bagus… Terkadang timbul pertanyaan dalam pikiran saya…
“Apakah tahun baru ini pantas untuk dirayakan…??” pertanyaan ini disusul dengan pertanyaan lain
“Apakah perayaan tahun baru selalu seperti ini, senang-senang, hura-hura dan semacamnya..??” hingga sampai pada pertanyaan terakhir..
“Apakah bangsa kita Indonesia dan Agama kita (saya adalah seorang Muslim) mengenal acara perayaan tahun baru seperti ini..??”

….
……..

11 pemikiran pada “Sardibu jam Sembilan Pagi….

  1. sebaiknya memang tidak usah ada perayaan tahun baru, karena itu acaranya orang-orang barat…

    kita orang Indonesia, orang Islam, punya tahun baru sendiri… Jika ingin merayakan, rayakan tahun baru islam dengan banyak doa dan merenung….

    Jangan terlalu suka meniru budaya2 dan kebiasaan orang barat…
    semakin hilang nanti identitas kita sebagai orang Indonesia dan orang Islam…!!!

  2. *tos*
    saya termasuk yg ga suka sama perayaan taun baru.
    ga penting aja rasanya, ga beda apa2 juga ganti taun itu, paling ganti kalender, hhe. ga usah heboh2 dirayainlah… menurut saya sih gitu =)

  3. untuk apa perayaan tahun baru?
    orang butuh momentum.
    kenapa masehi?apa kabar hijriah?

    menurut gue, perayaan bentuk apapun haruslah mengena bagi hari sang peraya sendiri.
    apakah ia ingin merayakan sendiri atau membagi kebahagiaan dengan orang sekitarnya, itu adalah pilihan pribadi.

    secara sosial, justru kita membutuhkan perayaan. seperti halnya pesta perkawinan. dan lainnya dan juga seterusnya.

    hehehe

  4. buat ibu Gita :
    pendapat saya :
    mungkin secara sosial hal itu bisa dibenarkan..
    perayaan ?? OK…
    tapi yang dikhawatirkan adalah….
    selanjutnya, setelah itu dan apa makna-nya….

    kenapa kita dengan santainya bisa bersorak sorai dengan gembira sedangkan dibelahan bumi lain, perang sedang berkecamuk…
    saudara kita sedang dibantai dengan sadisnya…

    dan kita dengan santainya merayakan perayaan “tahun baru mereka”
    … !!! ????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s